Budidaya Lalat Menyelesaikan Persoalan Sampah dan Meningkatkan Ekonomi Desa

Budidaya Lalat Menyelesaikan Persoalan Sampah dan Meningkatkan Ekonomi Desa

Sahabat swadesa.com apa yang ada di benak Anda ketika mendengar tentang lalat? Apakah Anda memiliki bayangan jika lalat dapat menghasilkan nilai ekonomi? Bagaimana cara berternak lalat? Dan apa pendapat Anda jika mendengar ada Kampung Lalat? Pasti beragam gambaran dan pendapat yang muncul di benak Anda, akan tetapi jika Anda berkunjung ke Desa Grumbul Larangan, Anda akan melihat bagaimana Budidaya Lalat Hitam menjadi usaha warga di sana.

Desa Grumbul Larangan terletak di Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Desa Grumbul Larangan memiliki julukan sebagai Desa Laler, laler dalam bahasa lokal setempat berarti lalat. Di desa ini, sebagian warga berkegiatan ekonomi dengan melakukan budidaya lalat hitam, atau Black Solider Fly.

Awal mulai ide budidaya lalat ini, dikarenakan perlunya menjaga ekosistem lingkungan terhadap sampah organik yang ada di desa. Keberadaan sampah, dapat diurai oleh lalat hitam, dan ternyata lalat hitam memiliki nilai ekonomi. Tidak main-main, harga satu kilo gram telur lalat hitam bisa menembus angka Rp. 10.000.000,- sebuah harga yang sangat fantastis tentunya.

Ketika Anda memasuki Desa Grumbul, yang dikelan sebagai desa laler, Anda akan menjumpai kandang berwarna hijau yang terbuat dari bahan jaring atau kelambu, sebagai tempat budidaya lalat. Di media atau kandang tersebut, lalat hitam akan berkembang biak.

Namun, jangan dikira lalat yang dapat dibudayakan adalah lalat sembarangan. Budidaya lalat hitam secara fisik berbeda dengan lalat-lalat yang dijumpai di tumpukan sampah atau tempat kotor yang biasa dikerumuni sampah. Ciri fisik pada lalat hitam lainnya yaitu warna hitam membalut hampir semua tubuh lalat. Secara ukuran jauh lebih panjang dan besar dibanding lalat biasa.

Dalam melakukan budidaya lalat, terbilang cukup mudah, hal ini kemudian menjadikan warga desa berminat dan tidak mengalami kendala dalam melakukan budidaya, selain juga lalat hitam sangat bermanfaat dalam mengurai sampah, sehingga persoalan sampah teratasi secara organik atau alami.

Di Desa Grumul saat ini, setidaknya sudah terdapat 50 kepala keluarga yang membudidayakan lalat hitam. Kegiatan budidaya ini pada akhirnya membawa dampak secara ekonomi dan ekologi. Untuk modal yang dikeluarkan sangat murah karena pakannya dari sampah organik, yang merupakan sisa dari makanan warga, atau bisa dibilang di dapat secara gratis.

Dalam menjalankan usaha budidaya lalat hitam, warga tidak perlu kawatir akan kegagalan atau turunnya harga. Karena, nilai ekonomi adalah bonus dalam budidaya lalat, hal utama yang menjadi titik perhatian adalah terpecahkannya persoalan sampah, sehingga lingkungan mereka tetap bersih secara organik.

Dalam rencana jangka menengah, Warga Desa Grumbul Larangan telah merencanakan pendirian bank sampah. Bank sampah ini, akan memfasilitasi kegiatan masyarakat, dan pendapatan akan digunakan untuk pendidikan. Tidak heran, jika kemudian melalui dana yang tersedia, dapat mengantar warga desa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Dari sini, kita dapat kembali belajar bagaimana pentingnya inovasi dan kemampuan menyelesaikan persoalan lingkungan sosial-ekonomi di desa. Permasalahan yang ada dapat diselesaikan dengan membuat inovasi yang menghasilkan dan memiliki nilai ekonomi. Semoga, dapat menginspirasi. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *