Duplikasi Model Pengembangan Desa Wisata

Duplikasi Model Pengembangan Desa Wisata

Swadesa.com ~ Sejak lima tahun  terakhir, terhitung mulai berlakunya undang-undang tentang desa, pergerakan desa dalam upaya membangun dan mengembangkan potensi yang dimiliki desa kian menunjukkan kemajuan yang luar biasa.

Hal nyata yang dapat dilihat adalah dengan terus tumbuh dan berkembangnya berbagai sektor sosial-ekonomi di desa, salah satunya sektor pariwisata. Pariwisata menjadi satu sektor yang ‘manis’ dan ‘laris’ di Indonesia, hal ini kemudian memunculkan satu gagasan pariwisata dengan konsep desa yaitu desa wisata.

Saat ini keberadaan desa wisata dalam perjalanan pembangunan pariwisata di Tanah Air menjadi bagian yang sangat penting. Keberadaan desa wisata mampu menambah warna dan variasi destinasi yang lebih dinamis dalam suatu kawasan pariwisata, sehingga dapat kita lihat perkembangannya hari ini pariwisata tidak lagi terjebak dalam tren pengembangan dengan model mass tourism.

Lebih dari itu, melalui desa wisata, yang kemudian dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata, Karang Taruna dan kelompok wisata lain yang dipayungi Badan Usaha Milik Desa tengah menerapkan satu konsep wisata yang berkelanjutan.

Kita dapat melihat perkembangan pariwisata secara umum di Indonesia dari berbagai daerah yang telah mengusung pariwisata sebagai andalan daerah, keberadaan dan kemunculan desa wisata menjadi bagian tidak terpisahkan dari pasang-surut perkembangan pariwisata di daerah bahkan nasional. Dengan adanya desa wisata, sektor pariwisata membuktikan adanya keberpihakan kepada semangat pariwisata sebagai penyerap tenaga kerja pedesaan, sebagai generator pertumbuhan ekonomi wilayah, dan sebagai alat pengentasan kemiskinan.

Tidak sedikit, desa wisata yang kemudian hadir dan menjawab persoalan-persoalan umum yang terjadi di masyarakat. Persoalan sosial-ekonomi yang sudah menahun, kemudian dalam kemasan desa wisata dengan semangat gotong royong mampu menumbuh kembangkan masyarakat untuk bangkit dari persoalan dasar sosial-ekonomi. Misalnya; keberhasilan Desa Wisata di Gunung Kidul yaitu Desa Wisata Nganggeran, atau Desa Wisata Pujon Kidul di Malang, atau Desa Wisata Ponggok di Klaten.

Namun, tidak pula sedikit yang kemudian masih terjebak dalam persoalan mendasar, dan keberadaan Desa Wisata belum mampu menggenjot dan menjadi mesin penggerak sosial-ekonomi bagi masyarakat. Kehadiran Desa Wisata, masih sebatas sebagai destinasi semata, dan lebih parah lagi hanya bertahan di awal-awal destinasi tersebut disiarkan ke publik.  Hal ini, tentu saja menjadi masalah serius, jika tidak diatasi tidak menutup kemungkinan akan banyak Desa Wisata yang tutup atau gulung tikar.

Kenapa persoalan ‘mandeg’ dalam pengelolaan Desa Wisata dapat terjadi? Jawabannya bisa sangat beragam. Jika dulu, persoalan modal finansial menjadi salah satu penyebab, saat ini sejak adanya Dana Desa modal finansial bukan lagi menjadi persoalan. 

Baca Juga : Ekowisata Desa Jayagiri, Kembangkan Wisata tanpa Rusak Ekosistem

Dari berbagai kajian mengenai Desa Wisata kendala dan tantangan desa wisata adalah terbatasnya visi atau persepsi yang jelas dari masyarakat tentang pariwisata, rendahnya ketertarikan dan kesadaran masyarakat, rendahnya kemampuan sumber daya manusia, adanya kendala budaya, sering terjadi pemaksaan dan pembohongan terhadap wisatawan. Untuk mengantisipasi  kendala ini, pemerintah telah mengatasi dan mengantisipasi dengan melakukan arah kebijakan.

1) Memberikan peluang dan peran sebesar-besarnya kepada masyarakat dalam  pembangunan kepariwisataan;
2) Pengalokasian sumber dana, penguatan kelembagaan, dan pemberdayaan masyarakat dengan meningkatkan kemampuan dan kemandirian;
3) Memberikan kontribusi dalam pembangunan secara maksimal;
4) Memberikan kebebasan terhadap keinginan masyarakat;
5) Pengembangan desa wisata dapat menciptakan produk wisata lokal sebagai modal dasar perencanaan dan pemasaran produk, sehingga dapat menciptakan kestabilan dan ketahanan ekonomi.

Dalam perjalanannya, tidak dapat dipungkiri bahwa pengembangan desa wisata masih dihadapkan pada persoalan mendasar, yang berasal dari internal desa, seperti  supra struktur desa (pemerintah, hambatan regulasi). Selain itu, para pengurus atau penggerak Desa Wisata juga lebih sering melakukan duplikasi modal dari desa wisata yang lebih dulu ada.

Terjadinya duplikasi model dan kurangnya diferensiasi produk, menjadi hal yang sering kita jumpai dalam upaya membangun desa wisata. Hal ini, dapat menjadi persoalan di masa mendatang, karena akhirnya desa wisata akan memiliki kesamaan dalam konsep dan produk yang ditawarkan.

Duplikasi model Pengembangan Desa Wisata, menyebabkan pengembangan desa wisata cenderung mengulangi produk yang telah diciptakan oleh desa wisata yang sudah berjalan. Tidak serta merta ‘keliru’ namun duplikasi hendaknya tidak serta merta diterapkan, perlu adanya kematangan visi di masa mendatang, dan kemampuan dan pengetahuan dalam pengelolaan dan memahami daya tarik ‘potensi’ yang dimiliki desa. Meniru cara mengelola boleh jadi memudahkan, namun meniru objek atau produk yang sama bisa jadi menimbulkan persepsi pengunjung bahwa tidak ada kebaharuan dari desa wisata satu dengan desa wisata yang lain.

Melihat hal tersebut, Badan Usaha Milik Desa sebagai payung dan badan yang mewakili desa dalam upaya mengembangkan dan membangun potensi sosial-ekonomi desa kiranya wajib memiliki gagasan dan konsep berkelanjutan dari setiap unit usaha yang akan dijalankan, dalam hal ini desa wisata.  Pengurus BUMDes harus memiliki bekal yang cukup, pengetahuan tentang pengelolaan pariwisata, potensi yang akan diangkat dan visi di masa mendatang.

Sumber daya manusia yang mumpuni, wajib ada dalam tubuh BUMDes, tanpa sumber daya manusia yang kompeten BUMDes hanya akan menjadi BUMDes duplikasi murni, dan tidak memberikan satu inovasi yang benar-benar baru dalam upaya pembangunan unit usaha.

Karenanya, menjadi penting untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia BUMDes, hal ini salah satunya melalui pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan.  Pengelola BUMDes harus aktif dan update informasi perkembangan BUMDes di berbagai wilayah, serta update pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan BUMDes.

Bagi Anda, pengelola BUMDes, pendamping desa, dan pegiat desa pada umumnya dapat memperbaharui pengetahuan seputar BUMDes melalui www.bumdes.id dan Anda juga dapat mendapatkan Buletin Bulanan BUMDEs Update dengan mendownload melalui link yang tersedia di website bumdes.id

Semoga bermanfaat, dan menjadikan kita bersama lebih giat dalam mengelola potensi desa. Salam [ Ryanstori ] 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *