Usaha Madu Kelulut Meningkatkan Ekonomi dan Ekosistem Yang Lestari

Usaha Madu Kelulut Meningkatkan Ekonomi dan Ekosistem Yang Lestari

Meliponini adalah jenis lebah penghasil madu yang hidup di daerah tropis. Dalam bahasa lokal atau Indonesia lebah Meliponini lebih dikenal dengan nama Kelulut.  Kelulut banyak hidup di daerah tropis dan hutan Indonesia seperti di Sumatera dan Kalimantan, Kelulut merupakan salah satu jenis serangga yang memiliki hubungan simbiosis mutualisme dengan aneka jenis tanaman berbunga.

Hubungan simbiosis Kelulut dengan tanaman adalah dengan cara mengambil sari madu dari bunga-bunga tanaman, sebaliknya tanaman memerlukan serangga kelulut untuk membantu penyerbukan atau persilangan bunga jantan dan bunga betina. Dengan kondisi demikian, maka tanaman dapat berbunga dan berbuah.

Keberadaan Kelulut sebagai penghasil madu, kini telah menjadi bagian dari Inovasi Produk Desa di Desa Murung Ta’al RT 02 RW 01, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Kisah manis madu Kelulut dimulai dari seorang pemuda bernama Yamin Fauzi yang menemukan sarang kelulut di hutan. Sadar akan keberadaan madu di sarang kelulut, maka Fauzi membawa pulang sarang kelulut untuk dibudidayakan. 

Dalam waktu beberapa bulan, sarang Kelulut milik Fauzi berhasil dibiakkan mencapai puluhan sarang. Langkah Fauzi membudidaya kelulut ini akhirnya diikuti banyak warga desa lainnya. Hal ini tidak lain karena dari satu sarang saja dapat menghasilkan madu sekitar 1 sampai 1,5 liter. Selain itu keberadaan kelulut milik Fauzi juga membantu proses pembuahan tanaman di sekitar desa, sehingga tanaman mudah berbuah.

Warga Desa Murung Ta’al, setidaknya dalam satu rumah tangga telah memiliki 10 buah sarang kelulut. Dengan memiliki 10 sarang, rata-rata warga dapat tambahan nilai ekonomi dari penjualan madu sekitar 3 Juta rupiah. Penjualan madu kelulut saat ini masih terbatas di wilayah Kalimantan.

Dari sisi ekonomi kelulut memberikan manfaat bagi warga yaitu memiliki tambahan pendapatan. Akan tetapi tidak hanya pada manfaat ekonomi secara langsung dari madu saja, keberadaan kelulut meningkatkan pendapatan warga dari sektor lain yaitu sektor pertanian dan perkebunan dengan adanya kelulut sektor ini menjadi berkembang dan produksi yang maksimal.

Kehadiran kelulut sangat membantu peningkatan produksi buah-buahan di kebun warga desa. Karenanya aktivitas budidaya kelulut, pada akhirnya menumbuhkan kesadaran untuk memelihara dan melestarikan lingkungan yang menjadi habitat kelulut.

Saat ini, kelompok kelulut ini masih berdiri sendiri, belum ada BUMDes yang hadir dalam upaya menciptakan inovasi lanjutan dalam pengemasan dan pemasaran misalnya. Karenanya menjadi harapan bersama ke depan dari inisiasi warga dan pemerintah desa, tentu perlu dibentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam mendukung permodalan dan pemasaran madu yang dihasilkan masyarakat. Sehingga akan memiliki kualitas dan kuantitas yang lebih baik, serta dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Keberhasilan Fauzi warga Murung Ta’al dalam menangkap potensi yang dimiliki di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, nyatanya mampu membuat perubahan mendasar di antara warga baik secara sosial-ekonomi maupun dalam upaya melestarikan alam. Dari Fauzi kita bersama belajar, bagaimana gerakan-gerakan kecil dapat menjadi gerakan bersama yang lebih besar, demi terwujudnya desa yang swadesa. Semoga bermanfaat. Salam. [ Ryanstori ] 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *